Ada tiga faktor dasar yang mempengaruhi
seorang kandidat memenangkan pertarungan dalam pilkada,. Ketiga faktor tersebut
yaitu (1) Populeritas (dikenal), (2) Liketabilitas (disukai), & (3). Elektabilitas (dipilih). Ketiga faktor ini
sangat menentukan dan tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya Seorang kandidat tidak boleh
mengabaikan ketiga faktor diatas. Jika salah satu diabaikan
atau gagal dimiliki seorang kandidat maka kemenangan seorang kandidat akan
sulit diraih.
Justifikasinya bisa dituliskan seperti ini :
Justifikasinya bisa dituliskan seperti ini :
- - Bagaimanamungkin seorang akan sukai jika ia tidak dikenal?
- - Bagaimanamungkin seorang akan dipilih jika ia tidak disukai?
- - Dan bagaimana mungkin seorang akan MENANG, jika ia tidak dipilih?
Oleh karena itu syarat mutlak bagi seorang
yang ingin menjadi kepala daerah Ia harus memperhatikan ketiga hal tersebut. Banyak
kasus kita jumpai seorang yang berambisi ingin mencalonkan diri sebagai kepala
daerah tapi ia tidak memperhatikan ketiga hal tersebut. Sebagai contoh seorang
kandidat hanya mengandalkan tingkat kepopulerannya, tapi ia tidak mengatahui
kalau kepopulerannya tidak beriringan dengan tingkat kesukaan konstituen
terhadap dirinya. Ada juga kandidat yang berlomba-lomba memasang spanduk,
baliho, poster, iklan, memajang gambar dan beberapa sepenggal jargon perubahan akan
tetapi tidak dibarangi dengan target menarik kesukaan konstituen terhadap
dirinya. Sudah tentu harapan untuk mendapatkan suara yang banyak tidak akan pernah
terwujud.
Baiklah disini akan saya sampaikan sedikit
beberapa cara dan pertimbangan sebelum seseorang mencalonkan diri sebagai calon
kepala daerah.
- Menentukan Image(citra diri) yang harus disampaikan kepada konstituen, tujuannya adalah untuk menarik simpatik konstituen. Akan tetapi pencitraan yang dibangun juga harus bersandar pada keinginan masyarakat. Misalkan prestasi kerja nyata, perhatian pada rakyat, jujur, peduli, bersahabat, ataupun hal-hal positif lainnya.
- Menyampaikan visi dan misi yang berangkat dari aspirasi dan ekspektasi konstituen, tetapi tetap terukur dan realistis, jangan sampai kandidat disebut publik sedang mengarang cerita lebay atau dongeng.
- Membuat satu jargon yang kreatif, singkat dan konsisten agar mudah diingat oleh kostituen.
- Membuat jaring-jaring sosial organisasi (komunitas) sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan tujuan pencalonan seorang kandidat.
- Menggunakan peran media sebagai corong dalam menyampaikan hal-hal yang positif yang berkaitan dengan seorang kandidat.
- Melakukan Survei/Riset. Kebanyakan calon kandidat sering melupakan survei. Survei sangat penting dilakukan seorang kandidat terutama survei terkait presepsi dan prilaku konstituen. dengan melakukan survei tersebut seorang kandidat akan mendapatkan berbagaimacam data dan informasi secara akurat dan terukur. Bukan hanya sekedar asumsi atau dugaan yang didapat dari perasaan pribadi ataupun didapat dari orang kata orang. Survei akan menentukan strategi apa yang akan dipakai oleh seorang kandidat dalam memenangkan kompetisi sebagai calon kepala daerah. Saat ini banyak lembaga-lembaga survei yang menawarkan jasa survei terkait pilkada. Seorang kandidat dapat menggunakan beberapa lembaga survei, setidak dua lembaga survei yang digunakan. Tujuan menggunakan lembaga survei seorang kandidat akan mendapatkan banyak bahan informasi dan data, setidaknya menjadi bahan perbandingan.
(By. Zainul Rifqi)
Bos bisa privat tuk belajar survei?
BalasHapusBos bisa privat tuk belajar survei?
BalasHapus